Join for FREE | Take the Tour Lost Password?
[x]

deviantART

 
About Me Member Software Developer eksinadsFemale/Indonesia Recent Activity Deviant for 2 Years
Needs Premium Membership
Statistics 8 Deviations
11 Comments
531 Pageviews

Someone you can't live without

Wed Dec 26, 2007, 4:27 AM
“Aku capek.” Katanya. Mengawali suatu percakapan setelah berbasa-basi apa kabar, kabar baik yang kami lakukan beberapa detik sebelumnya.
“Capek kenapa?” Tanyaku.
“Aku capek. Menunggu kamu.”
Lalu aku terdiam. Tidak tahu harus menjawab apa. Setelah dua bulan lamanya aku memutuskan untuk break, bukan putus, tapi break sejenak. Untuk meluruskan niatku. Untuk mencari kemana jalan hidupku. Agar aku tidak membawanya tersesat dalam kumparan waktu tak berujung dalam hidupku.
“Ada orang lain.” Katanya lagi. Setelah kurang lebih tiga menit aku tidak menjawab.
“Maksud kamu?” Aku berlagak bodoh dengan bertanya, meski aku tahu kemana maksud pembicaraannya.
“Aku ingin menikah. Mungkin dengannya.” Tambahnya.
Aku masih terdiam, mencoba meredam debaran di hatiku. Mencoba mereguk kesadaran diriku dan mencubit keras lenganku. Berharap ini adalah mimpi. Mimpi karena aku terlalu rindu pada dirinya. Manifestasi setelah dua bulan lamanya menahan hasrat mengetahui kabarnya.
“Namanya Lanny. Teman kampus aku. Jangan salah sangka dulu. Aku dan dia tidak ada apa-apa. Baru sebulan ini, kita mendadak dekat. Ia yang terlebih dahulu menawarkan dirinya, untuk mengobati hatiku. Untuk menatanya kembali.”
“Awalnya aku menolak. Lalu ia pergi. Barulah saat itu aku menyadari, aku membutuhkannya.” Seakan perlu menambahkan luka di hatiku, ia meneruskan ceritanya. Bahkan di saat aku tidak bertanya.
“Kenapa jadi begini?” Hanya itu kalimat yang mampu keluar dari mulutku.
“Mengapa dalam sebulan, kamu bisa merubah rasa yang telah bersemayam selama lima tahun untuk aku.”
“Mengapa semudah itu?” Tanyaku getir. Menahan semua air mata yang telah merayapi pipi dalam sunyi.
“Kamu yang menyakiti aku selama ini. Aku capek. Aku lelah selalu menjadi yang kedua.” Balasnya.
“Yang kedua? Aku tidak pernah mengkhianati kamu dengan siapapun. Tidak pernah ada laki-laki lain yang aku sayangi seperti dirimu. Jangan menuduh sembarangan kamu!” Aku membalas dengan nada keras.
“Bukan karena laki-laki lain. Aku capek selalu menjadi yang kedua setelah mimpi-mimpi dan ambisi kamu. Kamu menyakiti aku, karena aku tahu, aku tidak akan pernah menang dari mimpi dan ambisi kamu.”
Aku terdiam. Tidak menyangka kalimat itu akan keluar dari bibirnya. Seorang lelaki yang selalu kucinta dan kupuja. Karena kedewasaan dan kebesaran hatinya. Yang selalu senantiasa mendukung aku dan menyemangati setiap langkah aku.
“Jadi itu menurut kamu? Aku tidak pernah memenangkan ambisi aku daripada kamu!” Bantahku dengan nada kecewa.
“Lalu? Saat aku minta kamu untuk pulang setelah menyelesaikan studi kamu. Aku minta kamu disini, menemani aku, mencoba membangun mimpi berdua. Apa jawab kamu? Kesempatan bekerja di universitas dan menjadi peneliti adalah kesempatan langka. Dan kamu ingin mencobanya. Kamu inginkan satu tahun lagi disana. Dan aku, lagi-lagi harus menunggu.”
“Akuuuuu…. Aku tidak pernah…”
“Tidak usah mencoba mengelak. Semakin kau membuat alasan, semakin kuat kenyataan betapa kamu mencintai pekerjaan dan dunia kamu sekarang. Terlalu sempit untuk diriku menyelinap ke dalamnya. Telah lama aku menjadi penonton hidup kamu, tanpa menjadi pelakon di dalamnya.”
“ Please… Give me one more chance…” Pintaku.
“I have given you thousands of chance, during our five years togetherness.”

—————————————————————————-

Chika menghela nafas. Meletakkan mug berisi coklat panas di atas meja kecil di dekat jendela. Pojok favoritnya. Pojok dimana terdapat meja kecil, alat tulis lengkap, penerangan temaram dan jendela besar menghadap taman yang luas yang terlihat seperti karpet berwarna kehijauan, dari apartment kecilnya. Tempat dimana ia menulis dan menuangkan isi hatinya.

Sudah enam bulan lebih sejak kejadian tersebut. Semenjak terakhir kali Kevin menelponnya, mengatakan bahwa ada orang lain yang mengisi relung hatinya, hanya setelah satu bulan Chika menyatakan butuh waktu untuk sendiri. Dan sudah tiga bulan sejak Chika menerima undangan pernikahan Kevin dan Lanny. Tentu saja Chika tidak bisa datang. Dengan sopan ia mengirim sms kepada Kevin, menyatakan bahwa ia tidak dapat menghadiri resepsi pernikahan mereka. Dalam smsnya, Chika menyebutkan bahwa ia tidak mendapat tiket pulang ke Jakarta. Sedang high season, tambahnya. Meski alasan sebenarnya ialah Chika tidak sanggup melihat Kevin bersanding di pelaminan bukan dengan dirinya. Kevin hanya menjawab dengan singkat “Gakpapa. Doakan yah, semoga kami menjadi keluarga sakinah. Insya Allah. Amiin…”. “Kami”, betapa satu kalimat kata ganti itu berhasil meremukkan hati Chika sekali lagi. “Kami”, tidak seperti “Kita” yang berarti “Aku dan Kamu”, namun “Kami” yang berarti “Aku dan Dia”. “Kami”, “Aku dan Lanny”, menjadi keluarga sakinah. Hati Chika menjerit, seharusnya Aku. Seharusnya nama Aku yang terpampang disana. Dan betapa dalam tiga bulan sebelumnya, Chika berulang kali menunggu telefon dari Kevin, berharap ia akan berkata “Maafkan aku Chika, aku telah membuat keputusan yang salah. Aku tidak mungkin mencintai orang lain selain kamu.”. Namun hari itu tidak pernah terjadi. Sampai akhirnya, Chika meluruhkan seluruh harga dirinya, dan menghubungi Kevin. Chika hanya mengajukan satu pertanyaan.

“Mengapa kamu yakin, dia adalah jodoh kamu? Bukan aku? Mengapa hanya butuh waktu sebulan, dari lima tahun kita?” Tanyaku pasrah.
“Masalah jodoh. Aku tidak tahu, karena itu rahasia Allah. Namun aku memiliki beberapa criteria bagi seorang perempuan untuk aku jadikan pendamping hidup, dan ia memenuhi criteria itu.”
“Lalu aku?” Tanya Chika.
“Selain itu. Mimpi ia sederhana. Ia tidak rumit. Ia begitu mudah dicintai. Ia bersedia mengorbankan sebagian mimpinya dan merubahnya menjadi mimpiku dan mimpi dia, mimpi kami. Saat kamu memutuskan untuk pergi, Chik. Aku pikir, aku akan mati. Aku pikir aku tidak akan dapat menjalani hidupku dengan normal. Aku pikir, akan selalu ada bagian dari dirku yang hilang. Ternyata aku hidup. Aku dapat menjalani hidupku dengan baik-baik saja. Aku masih bisa tersenyum, merasa bahagia. Namun saat Lanny pergi, karena ia tahu aku tak mungkin mencintainya. Dunia aku serasa runtuh. Dua malam aku tidak bisa tidur, hanya mencari dia. Saat itulah aku tahu, I am not suppose to marry someone I can live with, I am suppose to marry someone I can’t live without.”

Chika terdiam. Hanya butuh satu kata untuk mengakhiri sebuah cerita. Hanya butuh satu kata untuk memulai cerita baru. Chika tahu, kalimat barusan ialah akhir dari ceritanya dengan Kevin. Dan awal cerita Kevin dengan Lanny.

Chika merenung. Mencoba memikirkan hidupnya selama ia pergi dari Jakarta. Sudah sekitar dua tahun lamanya ia meninggalkan Jakarta. Meninggalkan Kevin.

“Andaikan kamu tahu, Kevin. Betapa aku menangis selagi berdoa dalam setiap sujudku. Berteriak kepada Tuhan untuk mengirimkan seorang Adam kepadaku. Untuk menjagaku. Untuk menemaniku menunaikan amanah-amanahNya di bumi ini. Untuk meneruskan agamaNya di bumi ini. Dan bagaimana aku selalu berharap dirimulah yang ada di sisiku. Menjaga aku. Menjadi imam dalam solat-solatku.”

“Dan kamu benar. We are supposed to marry someone we can’t live without. Because for the past two years, one thing that makes me keeps on going is the thought of you living, walking, breathing beside me. Because there were no seconds, I live my life, not feeling you besides me.”

“So, you are completely right. I should have said “Yes” when you said you want to marry me. Because I can’t live without you.” Bisik Chika lirih. Dalam kesunyian suatu sore di musim semi. Dalam kesendirian. Dalam sebuah kesia-siaan.

deviantID

No deviantID yet.

Devious Info

  • Current Residence: in DA?
  • Interests: CSS, Web, Blogs
  • Favourite movie: The one with great stories
  • Favourite band or musician: U2, Coldplay, Jamie Cullum, John Mayer
  • Favourite cartoon character: Arale
  • Personal Quote: what you don't have, you don't need it now ;)

deviantART Community Board

[x]

Comments


:iconeksinads:
Hahahaha.. gue baru buka DA lagi niyy.. :D
:iconbondanrastika:
asik nemu.. huahuahahauh watch ah..

--
gw ngga ngiler sama harta dan kekayaan, gw cuma ngiler kalo tidur miring. huehehehehe.. :D
www.bondanrastika.com

Site Map